Semalam di Jungwok

Siang itu saya dan dua temen saya, Ijay dan Tarmiji (iya tarmiji tapi bukan saya, nama kami sama tarmiji tapi beda kalo dia tarmijinya pake muhammad kalo saya gak dan nama saya ada tambahan abas dibelakang, jadi jangan salah) *sekedarinfokosong berniat untuk camping di pantai yang baru-baru ini ngehits dijogja. Karna pantai ini masuk postingan akun Instagram bergengsi Explore Jogja, akun cabang resmi dari Explore Indonesia.

Dan sekedar info kalo kalian ingin pergi ke suatu tempat untuk jalan-jalan atau liburan hal pertama yang saya saranin adalah buka tuh akun, kenapa? Karena eh karena di sana kamu akan tahu dan tempe tempat-tempat keren yang recomended banget. Dan satu lagi kalo postingan kamu di repost sama akun Explore maka bimsalabim boom! follower kamu bakalan nambah *gilegaktuh *serius.

Pantai jungwok namanya, pantai yang berada di gunung kidul ini masih tergolong sepi karna baru  dan juga karna waktu kami kesana udah masuk musim penghujan, jadi gak banyak orang yang kurang kerjaan seperti kami yang mau ngecamp di pantai jungwok ini. Dan juga biasanya para pencari foto Instagram hanya datang saat pagi nyampe sore gak banyak yang menginap atau ngecamp, hanya orang-orang pilihan saja. Hahaha
*bangga

Jam 2 dilebihin sedikit kami berangkat dari asrama menuju tempat makan cepat saji, Olive. Lah kok jadi makan? Iya kami perlu makan dulu sebelum pergi *geek. Dan setelah kebutuhan terpenuhi kami langsung naik motor dan ngeng menuju pantai jungwok, gunung kidul.

Perjalanan kurang lebih minta maaf 3-4 jam dari kota jogja yang cukup membuat pegel bokong, kaki, hati dan pikiran . Buat kamu yang belum tau arah menuju pantai jungwok nih saya kasih tau, kalo dari jogja kamu cukup lewat jalan menuju gunung kidul lurus aja nanti nyampe wonosari tanya ke warga setempat pantai wediombo, kenapa wediombo? Karna pantai jungwok tepat berada di samping atau belakang *entahlah pantai wediombo dan kebanyakan warga tidak langsung ngeh atau tau dimana pantai jungwok, makanya kamu nanyanya pantai wediombo dulu, ingat wediombo. *informatifbangetkan hahaha

Jalan menuju gunung kidul ini termasuk ajaib loh, kamu bakalan ngerasain wahana alami jalan yang berbelok dan diiringi pohon-pohon yang bernyanyi, kebun warga yang menyapa dan aroma hutan asri yang tidak akan kamu temui di jalan-jalan men *eh kota . Selama perjalanan kamu pasti akan menemui warga yang bertani dengan senyum khasnya yang selalu membalas setiap kali kita tersenyum. Dan yang pasti kita akan menemui pos retribusi, iya retribusi tempat dimana kita menyumbang untuk biaya fasilitas dan pemeliharaan pantai,dan sebagai seorang traveler yang baik kamu harus bayar. Cukup dengan Rp.3500 per/orang hari biasa dan Rp.10.000 saat liburan kamu udah membantu menjaga pelestarian wisata lokal, dan juga hanya dengan uang segitu kamu bisa mengexplore banyak pantai yang ada di gunung kidul ini. Yup.

“Masih jauh pak?”

“Gak, udah deket kok, dek.”

“Kok bau pantainya masih gak kecium ya?”

*bapaknyadiem

Hahaha becanda bapak.

Setelah bayar dan ngobrol sebentar kami langsung melanjutkan perjalanan, dari pos retribusi kurang lebih 300 meteran lagi baru nyampe pantai, deket kata bapaknya lah kita yang duduk udah lebih 2 jam kan beda rasanya.

Dan taadaa akhirnya kami sampai ke pantai wediombo, parkir, dan kita masih harus berjalan sekitar 15 menit an untuk nyampe ke pantai jungwok

*capektapiepic yuk berangkat.

“Kamu masuk aja dulu ke pantai wediombo lalu belok kiri menuju ujung pantai nanti ada keliatan papan petunjuk menuju pantai jungwok”
gitu kata bapak yang saya tanya di parkiran.

Pas nemu papan petunjuk nya kami langsung belok dan saya pertama bingung baru beberapa langkah kami sudah masuk persawahan warga dan *blank

Bener nih jalannya?

Kok sawah sih?

Jangan-jangan kita dikerjain nih sama bapaknya?

Itu kata pikiran kami bertiga, dan beruntung ada warga yang lagi jalan pulang dari berladang *mungkinsih

“Misi pak, jalan menuju pantai jungwok mana ya?”

“Ini lurus aja dek” sambil nunjuk arah

pantai jungwok yang terlihat samar

“Masih jauh pak?”

“Gak, itu kan ada belokan, nah abis itu pantai.”

“Jauh itu mah bapak, “*logatsunda

“Gak, mau dianter?” *geek

Dengan halus kami menolak, dan lanjut melangkah. Kami menolak bukan karna takut ditipu atau dimintai bayaran, cuman kasian sama bapaknya yang udah tua buat hanya nganter kami ke pantai, karna disini di gunung kidul kamu gak bakalan nemu bapak-bapak yang nipu hanya karna uang, saya yang jamin  gak ada. Kalo kamu kena tipu juga berarti ya lagi sial aja tuh.

Woow thankyu, thankyu god !

Itu kata pertama yang terbenak dikepala saya ketika sudah menginjakkan kaki di pasir pantai jungwok.

image
Pulau yang gagah tepat berhadapan dengan pantai

Ya pantai yang sepi dan ombak yang tenang pasti membuat orang yang datang merasa beruntung, seperti pantai pribadi. Waktu kami sampai ada 4 tenda yang sudah berdiri diujung selatan pantai dan kami memutuskan untuk berkeliling di sekitar barat pantai sebelum mendirikan tenda. Kalo berada di tempat keren kayak gini, gak ada kata buat mager yang ada jalan sini jalan sana lompat-lompat jatoh *adawsakit .

Pantai yang terbilang kecil ini memiliki batu karang besar yang berdiri gagah di tengah pantai, dan terkesan seperti sebuah pulau tak berpenghuni, di tepi pantai terdapat dua aliran sungai kecil yang mana hanya terjadi di musim hujan seperti saat ini, aliran sungai ini berasal dari air sawah yang merupakan genangan air hujan, iya musim hujan seperti ini dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk bertani dan berkebun, dengan memanfaatkan genangan air hujan tadi.

image
Welcome to jungwok beach

Dan di saat matahari mau terbenam kami sepakat untuk mendirikan tenda di samping 4 tenda yang sudah duluan berdiri tadi. Kami kepikiran malam ini untuk membuat api unggun kecil *ritualcamping dan temen saya Ijay sudah ambil langkah duluan untuk mencari ranting kayu yang bisa di pakai untuk api unggun.

Dan lama lagi lama kemudian, saya bingung temen saya ini gak balik-balik,

Jangan-jangan ilang tuh anak

Nyasar?

Udah gede gitu, gak mungkin

Dibawa nyi roro kidul?

haahh *lebay.

Atas kekawatiran itu saya putuskan pergi nyari temen saya dan, *mbeeee ternyata dia nyantai di warung kecil pojok parkiran pantai, ternyata ada parkiran *waahbarunyadarsaya.

Matahari terbenam dan perlahan suara jangkrik serta binatang malam lainya mulai bernyanyi, diiringi suara ombak yang kian kesini semakin terdengar jelas. Saya dan temen saya memutuskan untuk makan malam di warung pojok parkir, kenapa warung pojok parkir? Karena saya lupa nanya nama pemilik warung, iya kadang karna kita sudah keasikan ngobrol dengan orang baru terkadang kita lupa menanyakan nama lawan bicara kita.

“Bu pesen makan ada?”

“Ada, bentar ya . . . “

Aroma bawang goreng dan ikan laut segar membuat kami semakin lapar, ngerti aja nih ibu hehe mengingat kami hanya makan tadi siang sebelum berangkat, jadi perut ini seakan demo minta jatah untuk makan malam.

Yah dan benar saja tidak lama si ibu langsung menyajikan makan malam yang menjanjikan kenikmatan perut kami.

Gini kamu pernah gak ngerasain ikan laut segar sama nasi yang baru mateng di tambah sayur yang diambil langsung dari kebun dan disuguhin dengan senyum “monggo mas” *gilaak ini sih bintang lima broh *wenakbanget , kamu harus nyobain ini. Paling gak sekali seumur hidup. Ini adalah hal yang wajib kamu lakuin di pantai jungwok, apalagi mengingat perjalanan kami tadi siang yang minta maaf, ini seakan menjadi hadiah untuk perjuangan kami, Woow lengkap rasanya. Makan malam yang tak terlupakan. Thankyu ibu *ciumjauh meski diliat simple, cuman nasi,ikan dan lauk tapi rasanya gak ada duanya. Percaya.

 

wp-1456065068630.jpeg
Simple tapi muantap

Pedas bu … tapi enak.

 

Saya memang gak tahan sama makanan pedas tapi lain cerita jika menurut saya makanan itu enak bagi saya sampe nangis saya abisin. *goodjoblah

Selesai makan kami bayar Rp.10.000 untuk makan dan Rp.2.000 untuk minum dan info di warung ini juga ada wc dan kamar mandi yang per/embernya Rp.2.000 maklumlah airnya beli tuh. Lalu kami minta kayu bakar seharga Rp.15.000, udah sekalian dinyalain. Hehehe

Malam makin larut dan kegiatan dibuat-buat kami selanjutnya adalah mencari kerang, kepiting, dan ikan kecil. Iyah ini adalah kegiatan yang asik ketika di pantai (baca gak ada kerjaan), banyak kepiting yang kami temui besar dan kecil kami tangkap setelah cukup kami bawa ke tenda, dan coba aja tebak apa yang terjadi selanjutnya? Hahaha iya kami bakar *ehbukan temen saya bakar kepiting tersebut untuk dijadiin cemilan, katanya sih rasanya gurih ya saya mau nyoba tapi kasian gak tegaan sama kepitingnya.

image
Kepiting, bakar, dan makan

Dan bakar-bakar pun akhirnya selesai, lalu kami memutuskan untuk tidur saja, selagi membayangkan gimana rasanya kepiting bakar tadi saya pun tertidur . *hening

………

Pantai jungwok pagi itu di sambut gerimis kecil yang sukses menggagalkan rencana kami untuk melihat sunrise yang katanya, keren abis. Yah gimana lagi kita sebagai traveler normal cuman bisa berencana tapi jangan pesimis dulu karna disetiap pembatalan rencana ada penyempurna yang akan menggantikan indahnya ekspektasi, weeeeh keren gak tuh hahaha *hening

Sruuup ….. saya menikmati kopi yang saya pesen di warung tadi malam, sambil berharap gerimis lekas pulang …. cepat kembali jangan pergi lagi …. *heh *malahnyenden . Dan benar saja tidak lama mentari mulai keluar dengan gagah seakan memberi harapan baru untuk kami mengexplore lebih jauh pantai jungwok .

Ambil tas, kamera ditangan, candid.

Jay fotoin dong hehe

Kami berjalan menyusuri tepi pantai ke arah yang kata bapaknya tadi malam terhubung dengan pantai wediombo dan di sana katanya ada tempat berupa tebing yang keren, dan kami berniat ke sana.

Dan benar saja belum jauh kami melangkah kami merasa masuk ke dalam film jurassic park yah jaman dinosaurus yang mana hanya bebatuan yang luas dibatasi dinding batu kokoh seakan melengkapi keindahannya, dan kami menemukan kolam kecil yang merupakan genangan air gujan, dan tebak saja airnya biru jernih bah kolam renang yang memanggil untuk kita mandi, tapi sayang kami sudah setuju untuk mandi di pantai wediombo.

wp-1456064953272.jpeg
Jungwok park

Bagus dikit, jepreet.

image
Genangan air hujan kemaren

Puas dengan berfoto ria kami melanjutkan langkah kami menuju tebing yang dibilang bapak nya ,dan sialnya jami tidak di diperbolehkan melanjutkan perjalanan kami oleh seorang bapak yang sedang mancing di dekat sana, katanya sih bahaya ya kita nurut aja *nuhunbapak sambil menggerutu kami pun kembali, dan ternyata kami baru sadar bahwa di sekitaran tepi pantai ini banyak bapak-bapak lagi mancing, ada yang sendiri, berdua, bertiga, ada juga yang satu kampung tapi bukan mancing, main bola *yaelah absurd. Hahaha.

image
Hasil tangkapan hari ini

Momen seperti apapun harus dinikmati broh iya walaupun agak kecewa juga kami akhirnya memutuskan untuk pulang meninggalkan pantai pribadi nan pasti akan teringat selalu sampai akhirnya kita memutuskan untuk kembali lagi kesini kapanpun itu.

Yah kapanpun itu.

Abbaqqisme,

Iklan

7 pemikiran pada “Semalam di Jungwok

  1. Suka bingung kalau nyampe di pantai yg dilarang berenang. Soalnya bawaannya kalau lihat laut suka pengen berenang. Mungkin diganti jadi foto2 kali ya. Asal temen jalannya juga ok motoinnya, kalau gak ok ya nasiiib 😦

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s